Tampilkan postingan dengan label environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label environment. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Cat Luar Rumah Anda Menentukan Dingin atau Tidaknya Rumah Anda

Melihat dari artikel-artikel pada akuinginhijau, saya tertarik dengan yang satu ini. "Apakah warna cat rumah anda??"
Mungkin sebagian besar orang belum / tidak tahu bahwa cat luar pada rumah menentukan tempratur dalam rumah. Dan mengapa saya tertarik dengan artikel ini? Jawabannya: Karena kebetulan salah satu mata kuliah yg sedang saya tempuh (Satuan Operasi)

berhubungan dengan artikel ini :D (Konduksi, Konveksi dan Radiasi)

Sebenarnya pemilihan warna itu adalah sebuah seni. Dan seni adalah kebebasan. Banyak orang mengatakan bahwa warna cat mencerminkan kepribadian serta gaya hidup seseorang. Tidak ada aturan umum dalam pemilihan warna cat untuk rumah anda namun satu hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan anda untuk membantu mendinginkan rumah anda adalah warna cat tembok luar rumah anda.
Warna tembok yang gelap akan menyerap panas antara 70-90% dari seluruh radiasi sinar matahari yang mengena pada daerah tersebut. Sebagian dari panas ini akan masuk ke dalam rumah dengan cara konduksi di tembok yang akan mengakibatkan panas di dalam rumah. Hal ini akan menambah energi yang diperlukan untuk menyejukkan ruangan hingga 20%.
Warna yang terang akan memantulkan sebagian besar dari sinar dan panas menjauh dari rumah anda. Warna tersebut tidak harus berwarna putih saja, tetapi warna hijau atau biru pun pilihlah yang berwarna muda dan terang.
Tembok dengan tanaman menjalar juga dapat melindungi tembok dari panas dengan mem-blok sinar matahari serta memantulkannya terlebih dahulu. Pilih tanaman menjalar yang mudah dirawat.
Kontribusi sekecil apapun akan terus menghemat energi kita dan memperbaiki lingkungan.

Rabu, 29 Juni 2011

Indonesia dan AS Tandatangani MOU Perlindungan Lingkungan

teknik lingkungan, perlindungan lingkungan, indonesia dan AS tandatangani, MOU perlindungan lingkungan

Selasa (28/6/2011) - Kementerian Lingkungan Hidup hari Senin di Jakarta menandatangani Nota kesepahaman dengan Environment Protection Agency atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat untuk program kerjasama dibidang perlindungan lingkungan.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengatakan kerjasama tersebut meliputi pencegahan dan pengelolaan emisi gas rumah kaca, pencemaran udara serta air, limbah, degradasi lingkungan, edukuasi dan kampanye lingkungan.
Selain itu, bentuk kerjasama lainnya juga meliputi transfer teknologi dan pertukaran informasi di bidang perlindungan lingkungan hidup, pelatihan dan kunjungan studi serta membantu membuat perundang-undangan tentang lingkungan. Kerjasama ini akan berlaku selama lima  tahun.
Nota kesepahaman (MOU) dengan Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA) Amerika Serikat ini, kata Hatta, merupakan langkah positif dalam upaya untuk menghadapi tantangan besar dalam melindungi lingkungan hidup.
Kerjasama tersebut, menurut Hatta, juga akan menambah pengetahuan dan keahlian Indonesia dalam meminimalkan dampak kerusakan lingkungan. Hal ini dikarenakan EPA telah memiliki pengalaman dalam menangani berbagai isu lingkungan terkait dengan perbatasan dengan negara tetangga, penanganan rehabilitasi daerah pertambangan dan daerah yang tercemar berat.
Lebih lanjut Hatta mengatakan,

Senin, 20 Juni 2011

Mencegah Demam Berdarah Dengan Merusak Lingkungan?



Masih ingatkah dengan iklan layanan masyarakat 3 M, yaitu kepanjangan dari Menguras bak air, Menutup tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas. ternyata hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Memang benar gerakan 3 M tersebut bertujuan untuk mencegah penularan nyamuk demam berdarah yang dapat beresiko kematian bagi penggunanya, namun langkah untuk M yang terakhir sepertinya kurang tepat untuk dilakukan.

M yang terakhir berarti mengubur barang-barang bekas, seperti kita ketahui barang-barang bekas yang biasa di kubur seperti ember bekas yang sudah rusak, panci yang sudah tidak dapat digunakan, botol-botol, kaleng-kaleng bekas. Barang-barang bekas tersebut apabila dikubur dalam jangka panjang akan

Kamis, 16 Juni 2011

The Nuclear Option: Waste Plan or a Wasteland?



The tsunami-induced nuclear disaster at Japan’s Fukushima Daiichi nuclear complex has sparked renewed debate about nuclear power’s future. Countries such as Germany and Switzerland have decided the risk ain’t worth the juice and have announced plans to end their nuclear power programs. No such decision appears imminent in the United States although it is unclear if any new plants will get built.

History as Prelude?

Should nukes be part of our energy future? That question will surely be debated for some time. But what about the spent fuel from reactors? Where is that in the debate?

The leaked radiation at the Fukushima plant didn’t come from the reactors alone. A failure to keep water circulating in pools storing spent fuel rods led to meltdowns, fires, and ultimately sizable releases of radioactivity. And today, some 87 days after the disaster began, plant operators at the Tokyo Electric Power Company are still struggling to stabilize the spent fuel pools.

The storage pool failures at Fukushima are highly relevant to America. The United States currently has about 65,000 metric tons of spent nuclear fuel. More than two-thirds of that waste is stored in storage pools [pdf] much like those at Fukushima. The rest is locked up in dry cement casks that are generally deemed safer because they are air-cooled (not water-cooled) and less susceptible to sabotage.